Masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, banyak sekali
terjadi fitnah. Fitnah itu seharusnya menjadi pelajaran bagi kita umat
Islam untuk mengambil hikmah dalam menjaga persatuan umat ini. Ditengah
egoisme kepentingan kelompok maupun pribadi.
Berbeda dengan 3 khalifah sebelumnya yang mendapat suara bulat dari
dewan syura’. Naiknya Ali bin Abi Thalib tidak dengan suara utuh, bahkan
di dalam kota Madinah sekalipun.
Bukan karena tuduhan bahwa Ali telah membunuh Utsman … naudzubillah klo sampai kita percaya.
Yang dituntut oleh Aisyah dalam perang Jamal adalah ketegasan Ali
dalam menghukum kaum pemberontak yang telah membunuh Utsman, sedangkan
bukti maupun terdakwa tentang siapa pelakunya sangat sedikit.
Posisi Ali ketika itu juga sedang dikepung oleh banyaknya kaum
Munafik, hal ini bisa dimaklumi karena banyak sahabat yang meninggalkan
Madinah setelah Rasulullah meninggal. Baik yang mati syahid ataupun
menetap di daerah baru untuk meneruskan penyebaran syiar Islam.
Walhasil, yang di Madinah justru banyak orang-orang Munafik yang
sedari semasa Nabi hidup sudah enggan untuk berjihad dan berdakwah di
jalan Allah.
Maksud Ali menunda Hadd / mahkamah atas pembunuh Utsman adalah
menghindari perpecahan antara golongan Anshor dan Muhajirin di Madinah.
Karena kaum munafik selalu dengan akal-licik berusaha memisahkan tali
antara dua golongan ini.
Bahkan demi terlaksana-nya Hadd ini, Ali memindahkan pemerintahan ke
tempat netral, Kufah. Agar lepas dari pengaruh kaum munafik.
Enggak heran, bila dikemudian hari, Muawiyyah juga memilih untuk
memindahkan pusat pemerintahan ke Damaskus, karena untuk menghindari
kaum munafik juga.
Posisi Ali ketika itu juga diperparah dengan semakin fanatik-nya
golongan Syi’ah Kadzabiyah (semacam gerakan Nabi Palsu dengan mencoba
mengangkat Ali sebagai Nabi dan Putra Tuhan) sudah ada sejak zaman Abu
Bakar.
Maksud Pawai Militer Muawiyyah.
Awalnya maksud dan tujuan Muawiyah dengan 20.000 orang pasukan adalah
untuk memberikan dorongan moral bagi Ali bin Abi Thalib yang sedang
dikepung oleh golongan Munafikun.
Sekaligus untuk berjaga-jaga jika mahkamah hadd dilaksanakan, dan
terjadi perang saudara antara Muhajirin dan Anshor karena hasutan kaum
munafik. Muawiyah dapat segera membantu meredam dengan pasukannya.
Muawiyah ingin memberikan dukungan moril dan menjaga independensi
keputusan Ali terkait akan digelarnya mahkamah atas pembunuhan Ustman.
Tapi issu yang dihembuskan oleh kaum munafik (pimpinan Abdullah bin
Saba’) adalah bahwa, Muawiyah bermaksud memberontak.
Maka kaum munafik ini mendorong Ali bin Abi Thalib untuk keluar dan
membatalkan mahkamah atas pembunuh Utsman karena ada pemberontak yang
sedang menuju Madinah. biar bisa lolos dari hukuman coyy!
Ali sendiri sebenarnya lebih suka menyambut pawai pasukan dari
Damaskus sebagai tamu. Karena dia tahu benar, bahwa Muawiyah bukanlah
sosok pemberontak, dan pasti ada maksud baik dari kedatanganya.
Sebagaimana pujian beliau ketika ditanya tentang sosok Muawiyah
“bahwa Muawiyah adalah orang yang paling baik adabnya diantara kami”
Tapi salah seorang panglima Ali berkaum munafik malah memulai dulu pertempuran, sehingga pecahlah perang Shiffin.
TAHKIM … perdamaian demi keutuhan ummat.
Amr bin Ash, salah seorang sahabat Nabi yang strategi perang dan
politiknya dikagumi oleh orang Romawi. Akhirnya bisa membaca, bahwa
perang ini adalah buah provokasi kaum Munafik.
Terutama setelah sahabat Amar bin Yasir meninggal dalam pertempuran.
Tewasnya beliau memberi pengaruh amat besar bagi kedua belah pihak,
dimana sebelumnya Rasulullah (SAW) telah berkata kepada Amar, bahwa ia
tidak meninggal, kecuali terbunuh di antara dua kelompok orang-orang
mukmin
Oleh karenanya, Amr bin Ash berijtihad dengan menyuruh seorang
prajurit untuk menombak al-Qur’an dan mengangkatnya untuk bisa
menghentikan perang, melakukan evaluasi sekaligus mengidentifikasi mana
yang mu’min asli dan mana kaum munafik.
Kaum munafik pasti menginginkan perang terus berlangsung, sedang
orang mukmin pasti meletakkan senjata menunggu ijtihad para ulama dan
umara’ sesuai al-Qur’an.
Selama proses Tahkim dan musyawarah antara sahabat terkemuka Nabi
inilah kebenaran nyata akan Orang mu’min sejati dan kaum munafikun
tersibak.
Orang mukmin meletakkan senjatanya dengan ikhlas, terutama di yang
berada di pihak Ali bin Abi Thalib. Orang mukmin di pihak Ali jelas
menanggalkan egoisme pribadi mereka dengan suka rela meletekkan senjata,
padahal kemenangan mereka sudah nyata di depan mata.
Sedang orang munafik, mereka tetap tidak mau meletakkan senjata.
Terus membujuk Sayyidina Ali untuk melanjutkkan perang, karena
kemenangan tinggal selangkah lagi.
Tapi Sayyidina Ali adalah orang mengutamakan kepentingan umat dan
persatuan umat. Untuk apa sebuah kemenangan, tapi persatuan dan kesatuan
umat terkoyak.
Hasil dari tahkim sendiri sebenarnya berisi, bahwa Ali bin Abi Thalib
ditetapkan membawahi wilayah Iraq dan penduduknya, sedangkan Muawiyah
ditetapkan membawahi wilayah Syam beserta para penduduknya, dan tidak
boleh lagi ada pertempuran.
Tapi fakta sejarah kemudian menerangkan, bahwa benar ketika itu
Sayyidina Ali dikelilingi oleh orang-orang munafik yang berperang demi
kepentingan pribadi. Bahkan penduduk Kufah sendiri mengkhianati beliau.
Rakyat (Kufah/Irak) Sayyidina Ali terpecah ke dalam 3 golongan.
Pertama, adalah mereka yang menerima Tahkim karena taat kepada Ali sebagai Khalifah dan tetap taat kepada Ali setelah Tahkim.
Kedua, adalah golongan Syi’ah yang memanfaatkan
kisah Tahkim untuk menarik simpati dan menyesatkan umat. Dan fakta
sejarah mengatakan, bahwa mereka malah berkhianat kepada Ali setelah
tahkim, karena rasa kecewa pada keputusan Tahkim yang dianggap menghapus
kemenangan perang mereka.
Ketiga, adalah kaum Khawarij. Mereka yang menolak
Tahkim dan berusaha membunuh siapa saja terlibat dalam Tahkim. Yaitu,
Amru bin Ash, Mu’awiyah dan Ali. Andai tidak dibantu oleh golongan
Syi’ah, pasti upaya khawarij membunuh Ali tidak berhasil. Seperti upaya
mereka yang gagal dalam membunuh Mu’awiyah.
Hikmah. Hukmul Qadhi yar’faul Khilaf.
Ali dan Mu’awiyah berusaha menghentikan perang saudara dengan
menunjuk Amru bin Ash dan Abu Musa Al-Asy’ari sebagai Qadli/hakim. Lalu
mereka pun mentaati apapun keputusan musyawarah dua hakim tersebut.
Umat ketika itu juga mentaati keputusan Tahkim, bahkan di pihak Ali
juga lebih banyak yang ta’at keputusan Qadli daripada yang akhirnya
menjadi Syiah dan Khawarij.
Kalaupun pertanyaanya kenapa dua sahabat itu yang ditunjuk sebagai
Qadli, karena dalam perang ini banyak sahabat Nabi yang tidak turun ke
medan perang. Menurut kitab al-bidayah wal Nihayah hanya ada 30 sahabat
yang berangkat ke Shiffin.
Para Sahabat, terutama yang bermukim di Mekkah dan Madinah sudah
kapok dengan perang Jamal. Sehingga mereka tidak mau lagi terpecah belah
oleh hasutan kaum munafik.
Kalau dalam hemat saya, perang Shiffin adalah murni perang Ahli Irak (120 ribu) dengan Ahli Syam (60 ribu pasukan).
Dalam Al-Qur’an sendiri telah termaktub bahaya kaum munafik dan bahkan mengancam dengan siksa neraka
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu(ditempatkan) pada tingkatan
yang paling bawah dari Neraka dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat
seorang penolongpun meraka” (Q.s. an-Nisa’[4]:145)
Semoga kita dijauhkan dari sikap kaum munafik ini, yang salah satu
cirinya adalah lebih menyukai perpecahan umat ini daripada persatuan dan
kesatuan.
“Jika mereka berangkat bersama-sama kalian, niscaya mereka hanya
menambah kerusakan belaka kepada kalian, dan tentu mereka akan bergegas
maju ke depan di celah-celah barisan kalian untuk mengadakan kekacauan
(fitnah) diantara kalian, sedangkan diantara kalian ada orang-orang yang
amat suka mendengarkan perkataan.” (Q.s. at-Taubah [9]: 47)
Penutup.
Dari kisah perang Shiffin ini, kita bisa mengambil pelajaran, betapa persatuan dan keutuhan umat itu lebih diatas segalanya.
Bila egois dan serakah, demi status kedaulatan baiah ummat atas
kekuasaanya. Tentu Sayyidina Ali bin Abi Thalib akan memilih terus
memerangi pihak Muawiyyah bin Abi Sufyan yang sudah diambang kekalahan.
Tapi Ali bin Abi Thalib lebih mementingkan ishlah dan ukhuwwah umat ini daripada gelar atau status Khalifah yang mutlak.
Bukankah dengan memenangi perang dan meraih kekuasaan dia bisa menulis sejarahnya sendiri yang Agung?
Tapi Ali bin Abi Thalib tidak peduli siapa benar dan siapa yang
salah. Siapa menang dan siapa yang kalah. Yang terpenting, umat harus
satu Hati dalam satu kesatuan.
Sumber : rode 2 blog