Tulisan ini ditujukan untuk membagi pengalaman membuat SIM C dengan
jalan yang benar. Tulisan ini akan bermanfaat bagi para pemakai sepeda
motor yang belum punya SIM C atau ingin membuat baru karena berbagai
alasan. Manfaat yang bisa diperoleh adalah bagaimana menghembat biaya
dan waktu, bagaimana bisa memastikan diri lulus ujian SIM C, bagaimana
menjawab soal ujian SIM dengan benar. Tulisan ini juga bermaksud agar
anda mampu membuat sampai selesai pada hari anda datang.
Syarat-Syarat Administrasi
Berikut beberapa syarat yang penting ada siapkan, yaitu
(1). Foto kopi KTP 1 lembar. Penting juga anda biasakan menyiapkan foto kopian KTP di dompet anda.
(2) Uang. Biaya total pada April 2012 adalah Rp.
120.000 terdiri dari Rp.20.000 untuk keterangan kesehatan dan Rp.
100.000 untuk biaya pembuatan SIM.
Biaya lainnya tidak ada tapi hendaknya ada membawa uang lebih
misalnya Rp. 150.000 untuk berbagai hal yang sifatnya pribadi dan
lainnya. Segitu sudah cukup berdasarkan pengalaman tanggal tersebut di
atas. Bagi anda yang berada di daerah lain bisa jadi lebih kecil atau
lebih besar. Silahkan Tanya dulu atau main dulu ke polres setempat.
Syarat Pribadi
Berikut ini beberapa syarat pribadi yang patut anda siapkan bahkan HARUS:
1. Tentu saja trampil mengendarai sepeda motor.
Minimal 1 tahun karena menurut pengalaman polisi penguji yang kurang
dari 1 tahun sering gagal total bahkan nyelonong nabrak pagar waktu
ujian.
2. Sehat dan waras. Sehat badannya. Waras pikirannya. Tenang hatinya.
3. Jangan sok hebat. Ini penting karena biarpun anda
(dan saya) sudah bertahun-tahun naik motor, bahkan seluruh Pulau Jawa
sudah dijelajahi, belum tentu anda lulus tes pada hari itu juga.
4. Tahu diri. Belum tentu anda lulus pada hari itu
bila anda datang bikin SIM tanpa persiapan dan kesiapan. Tahu diri
penting karena akan ada ujian praktek dan ujian teori bahkan beberapa
daerah menerapkan uji jalan raya dengan motor masing-masing.
Prosedur Yang Harus Diikuti Berdasarkan Kasus Polres Kabupaten Bogor pada April 2012
Sama seperti instansi lainnya, ketika membuat dokumen pasti ada
prosedur atau urutan langkahnya. Berikut ini beberapa hal yang perlu
diikuti:
1. Anda memasuki pintu gerbang polres, siapkan KTP aslinya untuk
diserahkan ke polisi jaga. Anda cukup membawa foto kopinya saja. Di
polres lain mungkin tidak menerapkan aturan ini. Silahkan ikuti aturan
masuk lingkungan polres setempat.
2. Parkirkan motor atau mobil anda di tempat yang disediakan.
3. Dari parkiran dengan membawa foto kopi KTP, langsung menuju ke pos
pemeriksaan kesehatan. Anda diperiksa mata, tensi darah, berat badan
dan Tinggi badan. Bayar Rp. 20.000. Dari sini anda akan dapat surat
kesehatan.
4. Bawa surat itu dan foto kopi KTP ke loket pendaftaran SIM baru.
Ikuti Antrian, kalo ada tumpukan map Satlantas yang tersedia, ambil satu
karena memang disediakan buat pembuat SIM.
5. Masukkan semua berkasnya ke dalamnya dan ikuti petunjuk di loket itu.
6. Serahkan ke petugas yang ada. Dia akan bilang, “tunggu di tempat
ujian praktek”. Di Kabupaten Bogor, polres mendulukan ujian praktek,
setelah lulus kemudian ikut ujian teori, setelah lulus menuju proses
berikutnya.
NOTE: urutan diatas bisa jadi berbeda setiap polres, silahkan Tanya atau
cari petunjuk tentang prosedur pembuatan SIM baru di polres setempat.
Proses Ujian SIM C
Pada hampir semua daerah pembuat SIM baru harus mengikuti 3 ujian
yaitu ujian praktek, ujian jalan raya dan ujian tulis. Namun di Polres
Kabupaten Bogor hanya ada 2 jenis ujian yaitu Ujian Praktek di halaman
polres saja dan ujian tulis atau teori. Mungkin ujian jalan raya
dihilangkan karena kondisi lalu lintas di Jabotabek tidak memungkinkan
karena kepadatannya termasuk kesibukan para polisi.
Dari cerita pengalaman para blogger, ujian jalan raya adalah sangat
mudah karena dilaksanakan secara rombongan dengan motor masing-masing.
Peserta mengikuti polisi yang membawa mereka berkeliling kota. Peserta
wajib mengikuti perilaku polisi ketika berkendara. Jadi bagian ini semua
(pasti) lulus. Berikut ini detail pengalaman ujian tersebut.
1. Ujian Praktek.
Saya adalah pengguna motor matik lebih dari 3 tahun. Sepertiga Pulau
Jawa sudah saya jelajahi. Mudik ke Jawa Tengah waktu lebaran dan waktu
Tahun baruan sudah saya lakukan dengan motor secara sendiri atau berdua.
Saya selamat, sehat dan senang. Berarti saya sudah terampil kan???
Tetangga satu RT pun mengakui saya sudah hebat naik motornya karena
mereka tahu saya mudik dengan motor. Hanya pembalap Rossi saja yang
tidak mengakui karena dia tidak kenal saya.
Waktu itu saya tidak punya SIM karena saya pinjam SIM C adik saya
yang mukanya mirip 80% dengan saya. Hampir 2 tahun SIM adik saya itu,
saya pegang berhubung dia tidak punya motor lagi. Polisi pun tidak
mendeteksi kalau saya pakai SIM orang lain karena pernah kena razia
juga. Jadi aman-aman saja. Namun, sebulan terakhir ini, dia meminta
kembali SIMnya. Wong punya dia, masa saya tidak berikan. Nah…sejak
itulah saya tidak punya SIM C. Eh…SIM A udah ada lhooo.
Karena tidak ada SIM C sementara jalan-jalan utama dekat rumah saya
merupakan jalan dimana setiap hari polisi melakukan razia, maka perlu
membuat SIM C. Saya menyempatkan waktu sehari untuk membuatnya di Polres
Kabupaten Bogor sesuai KTP saya bukan di Polres Kota Bogor . Saya
ikuti prosedur 1-6 diatas tanpa membawa bekal tahu diri seperti pada
syarat pribadi.
Di polres Kabupaten Bogor motor di sediakan yaitu thunder untuk
laki-laki dengan 3x ulang tes untuk masing-masing lintasan. Untuk
perempuan disediakan bebek manual dan bebek matik. Tidak boleh dengan
motor sendiri. Untuk laki-laki boleh menggunakan bebek ini tapi hanya
sekali tes atau sekali jalan. Jadi kalo gagal pada satu lintasan, maka
gagal semuanya dan harus ulang seminggu kemudian.
Mulailah ujian prakteknya. Saya sudah tahu sebelumnya bahwa ujian
prakteknya adalah lintasan lurus, lintasan zig-zag dan lintasan 8.
Aturannya adalah tidak boleh merobohkan patok-patok dan kaki tidak boleh
menyentuh aspal. Pertama kali lihat pada waktu bikin SIM A, saya pikir
itu mudah. Masa gitu aja gak bisa. Memang saya tahu, waktu itu banyak
sekali yang gagal. Tapi saya yakin bisa. Dan ketika saya ikut ujian itu,
hmmmm….masuk lintasan zig zag, saya gagal. Saya pun dapat selembar
kertas dengan tulisan merah sangat besar “TIDAK LULUS”. Inilah NASIB
SAYA WAKTU ITU. Rasanya…walau Cuma ujian SIM, tapi rasanya malu pada
diri sendiri. Sangat tidak enak dengan kegagalan kecil ini.
Okay…jadilah saya ikut ujian ulang seminggu berikutnya. Masih dengan
hati optimis datanglah pagi-pagi dan saya langsung menuju loket
pembuatan SIM baru dengan menyerahkan tanda tidak lulus. Ternyata…eh
ternyata trek zig-zag dihapuskan menjadi trek lurus dengan aturan rem
mendadak pada titik tertentu dilanjutkan dengan belok ke kanan atau
kiri. Kemudian ditambahkan lintasan U. Waktu itu ujian dibuka dengan
diawali ceramah oleh Kepala Unit Rekayasa Lalu Lintas untuk menandai
penggunaan pertama kalinya. Ceramah selesai. Dimulailah ujiannya.
Alamaaak…saya jadi yang pertama untuk mencoba lintasan U, lintasan lurus
rem medadak, dan lintasan 8. Saya gunakan bebek matik dan bruum. Saya
gagal lagi di Lintasan U. Karena saya laki-laki dengan bebek matik, maka
saya hanya boleh mencoba satu kali saja.
Gagal lagi untuk yang kedua. Rasanya sangat malu pada diri sendiri
dan banyak orang karena menjadi orang pertama yang gagal. Perlu
diketahui bahwa peserta yang ikut dalam ujian itu, tidak sampai 25% yang
lulus pada hari pertama dia datang. Bisa pada ujian ke 2, 3, 4, 5 dan
seterusnya. Ada yang satu bulan, dua bulan bahkan lebih masih di ujian
praktek itu.
Kenapa demikian? Karena mereka tidak tahu diri seperti saya. Namun,
ada juga yang lulus pada hari itu juga tapi tidak lulus pada ujian
teori bahkan ada yang peserta ujian bersama saya sampai 9x ujian teori
tidak lulus. Mana ada orang lulus ujian kalau tidak belajar
sebelumnya? Itulah dasar hukum yang berlaku pada ujian SIM ini. Hampir
semua orang tidak belajar dulu untuk ikut ujian ini. Mereka pikir
–termasuk saya – masa bertahun-tahun pake motor tidak lulus ujian? Ya
memang demikian. Ada tukang ojek motor yang puluhan tahun pun tidak
lulus. Kenapa? Karena kita tidak pernah berjalan membentuk angka 8
kan??? Kita pernah memutar balik tapi dengan menyentuh kaki ke aspal
kaan? Kita pernah rem mendadak terus banting kanan atau ke kiri kaan?
Tapi semua itu dengan bantuan kaki kita. Pada hari itu kita adalah
pengendara motor yang “tidak punya kaki”. Yang menggunakan kakinya
ketika ujian di situ, maka pulanglah ketika ujian belum selesai.
Sampai kapan ini akan terjadi pada diri saya. Menyebalkan bukan? Saya
tidak menyalahkan polisi, saya juga tidak ingin menyuap polisi karena
98% polisi disitu tidak berani berbuat seperti itu sekarang. Saya tidak
menemukan yang 2 persennya dan kalau pun ada saya tidak mau
melakukannya. Kenapa? Karena inilah saatnya saya membuktikan pada diri
sendiri bahwa saya mampu. Saya harus jadi manusia yang menghormati
proses walau setiap proses adalah kerja keras dan setiap kerja keras
akan dihargai oleh Tuhan YME. Menghargai dan menikmati proses inilah
yang sekarang tidak dihargai oleh orang-orang Indonesia. Mereka semua
ingin cepat dan instant dengan menyuap dan korupsi. Saya juga ingin
membunuh kesombongan saya melalui proses ini.
Selain itu di polres ini sekarang tidak lagi berlaku proses suap menyuap. Menurut polisi yang menguji: “ini
adalah jamannya begini. Dulu dengan 300-400 ribu langsung jadi.
Sekarang tidak lagi. Entah pada jaman nanti. Bisa saja berubah”
Ya…jaman lurus sedang berlaku di Polres Kabupaten Bogor. Jaman bengkok
sudah berlalu. Jujurlah saya bahwa saya menikmati jaman bengkok itu
ketika membuat SIM A. Waktu itu saya habis Rp. 550.000 untuk dua SIM.
Saya juga sangsi apakah saya akan lulus dalam sehari untuk bikin SIM A
bila di uji pada saat ini.
Ketidaklulusan yang kedua dan mendengar pengakuan teman ujian yang 9x
gagal ujian teori membuat saya harus berbuat sesuatu. Saya HARUS TAHU
DIRI BAHWA SAYA SOMBONG. Makanya inilah saatnya membunuhnya dengan
berlatih. Pada hari Sabtu dan Minggu ketika pelayanan tutup saya
sempatkan untuk berlatih ujian praktek dengan motor sendiri di lokasi
ujian. Polres dekat dengan rumah saya. Pada dua hari itu saya latihan 2
jam lamanya. Saya jadi tahu dimana titik belok dan kendali gas.
Anda yang sedang membaca ini bisa jadi dalam hatimu berkata” Memang
situ yang goblok. Gitu aja gak bisa”. Bisa jadi anda benar atau mungkin
sekali anda seperti saya kecuali kalo anda adalah penguji atau yang
sudah pernah menikmati trek seperti itu. Tapi bagi orang yang tidak
pernah mencobanya maka menjatuhkan kakinya adalah tindakan reflek yang
sulit dikendalikan. Untuk mengatasinya hanya dengan berlatih atau
mencobanya beberapa kali. Bayangkan saja dari ratusan orang yang ikut
ujian tidak sampai 30 orang yang lulus. Tidak sampai 25% dari yang ikut
ujian. Artinya tidak sampai 25% yang lulus ujian sekali ia datang. Bisa
jadi setelah mengulangnya.
Setelah latihan dua kali, saya pun ikut ujian di minggu ketiga.
Setelah ceramah selesai, polisi bertanya, “siapa mau memberi contoh tapi
contoh berhasil bukan gagal”. Dengan tahu diri sambil mengingat teknik
yang saya dapati maka saya pun maju dengan bebek matik. Jadilah saya
orang yang memberi contoh tersebut.
Rasanya? Kaki gemetaran dan deg-degan. Tapi saya ingat kata-kata
spongebob: teknik,teknik,teknik. Ya itu saya pegang teguh. Dengan
menggunakan teknik yang saya tahu maka luluslah saya dengan sekali jalan
saja. Teknik yang saya pakai adalah jangan hiraukan gambar garis
lintasan yang digambar di aspal. Asal kaki tidak sentuh aspal dan tidak
jatuhkan patok maka lulus. Ambil titik belok agak keluar untuk roda
depan agar lurus masuk pada lintasan dua patok. Dengan cara ini saya pun
lulus. Tepukan tangan teman-teman ujian pun membahana. Tidak sia-sia
saya berlatih. Namun, contoh berhasil saya tidak berhasil ditiru oleh
peserta ujian lainnya. Kembali banyak yang gagal dan harus mengulang. Kembali kepada hukum dasar yaitu TIDAK ADA YANG LULUS UJIAN TANPA BELAJAR KECUALI KAMU SUDAH KUASAI SEBELUMNYA. Tanda lulus pun saya terima dan diserahkan ke loket ujian teori.
2. Ujian Teori
Saya serahkan map beserta file didalamnya. Saya tidak periksa apa
isinya. Tidak pentinglah. Saya serahkan kepada pulisi yang jaga di loket
uji teori dan menunggu di panggil. Saya duduk di ruang tunggu ujian
teori. Cukup penuh ruang tunggu. Banyak amat yang menunggu ya? Tanya
saya dalam hati. Saya baru tahu kalo yang menunggu itu adalah peserta
uji ulang untuk teori. Seorang mahasiswi cantik yang dulu pernah bareng
saya ujian praktek juga ikut uji ulang. Dia lulus uji praktek pada waktu
saya gagal untuk yang kedua. Kini dia bersama saya karena gagal uji
teori pada minggu lalu.
Okay terdengarlah panggilan untuk saya dan lainnya sesuai lajur
tempat duduk. Masuklah saya di ruang uji teori. Ruang ini hanya muat 30
orang saja. Ada layar besar untuk lembar soal. Di ruangan itu uji teori
dengan computer sehingga hasil langsung diketahu detik itu juga. Semua
ada 30 soal. Katanya mesti jawab 18 soal untuk lulus. Saya tidak tahu
pastinya soal ini karena beberapa blogger berpendapat lain.
Soal uji teori adalah tentang SIM, rambu-rambu lalu lintas, tanda
isyarat polisi, marka jalan, dan lainya. Cara menjawab adalah dengan
menekan tombol A,B,C pada masing-masing jawab pilihan. Tombol reset
untuk merubah jawaban. Jangan lupa untuk mengecek tombol ini sambil
melihat ke layar petunjuk di depan. Ikuti petunjuk yang disampaikan
polwan atau petugas. Bacalah petunjuk pada layar soal dengan benar agar
tidak salah jawab soal. Kenapa begitu? Karena teman sebelah soalnya beda
dengan kita. Saya jawab soal A, sebelah saya jawab soal B. Metode uji
teori setiap polres bisa jadi berbeda. Tapi saya yakin di kota besar
sudah komputerisasi.
Waktu hanya 30 menit dengan masing-masing soal hanya 60 detik untuk
menjawab. Setelah 60 detik akan berganti soal berikutnya. Saya sangat
menikmati ujian teori ini. Saya yakin lulus apalagi ketika selesai soal
selalui di tampilkan kunci jawabannya. Saya optimis lulus bahkan saya
bisa memperkiran berapa soal yang benar.
30 menit berlalu, daaaaaan…hanya 4 orang saja yang lulus.
Nama saya ada diurutan no 2 dengan nilai 67. Saya jadi inget ketika saya
jadi juara 2 LPIR Depdikbud tingkat Nasional tahun 1992. Jadi seperti
mengulang kenangan terindah yang terulang. Saya pun berteriak
kegirangan. Saya tak percaya dengan hasil itu dan bertanya pada polwan, apa betul no 9A lulus? Ya betul. Begitu katanya. Kemudian dia berkata “yang
lulus keluar ruangan untuk intruksi selanjutnya dan yang tidak lulus
menunggu di ruangan untuk mendapat tanda tidak lulus untuk mengulang
minggu depan”.
Bayangkan dari 30 orang dan sebagian besar peserta uji ulang, hanya 4
orang atau 13,33% yang lulus. Kenapa itu terjadi dan kenapa saya
lulus? Kembali kepada hukum dasar yaitu TIDAK ADA YANG LULUS UJIAN TANPA BELAJAR KECUALI KAMU SUDAH KUASAI SEBELUMNYA.
Seperti cerita uji praktek di atas bahwa ada peserta tidak lulus pada
ujian teori bahkan ada yang peserta ujian praktek bersama saya sampai
9x ujian teori tidak lulus. Inilah yang menjadi pelajaran bagi saya
untuk tidak mengulangi kesalahan teman uji praktek yang tidak saya kenal
itu. Bersamaan dengan kegagalan uji praktek yang kedua saya pun siapkan
uji teori dengan membaca soal ujian sim.
Di internet ada banyak soal jawab ujian SIM yang dikeluarkan polisi.
Selama 3-4 hari saya betul-betul pelajari bahkan saya hapalkan untuk
tanda isyarat polisi, di persimpangan, diperempatan dan sebagainya. Di
soal jawab itu terdapat 500 soal dan jawabannya. Dengan membaca soal
jawab sebanyak itu sudah cukup untuk lulus. Tidak peduli berapa skor
angkanya. Ini masalah buat anda? Bagi saya tidak karena saya pikir ini
sekali seumur hidup. Mudah-mudahan demikian. Untuk menguji kesiapan uji
teori saya menggunakan link ini: http://www.indonesia-policewatch.com/adil/sim.php?action=simc
Dengan link tersebut saya mampu menjawab 21 soal dari 30. Saya jadi
optimis untuk lulus dan benar saja itu terjadi. Teman mahasiswi yang
gagal itu sebenarnya sudah tahu tentang soal-soal itu. Namun, itu
menjadi persoalan buat dia karena dia bilang,”banyak banget. Tidak tahu mana yang buat SIM C”. Aku balas,”betul memang banyak. Tapi kita bisa kira-kira mana yang buat motor dan buat mobil.”
Bagi sebagian besar orang menganggap bahwa ujian teori ini gampang.
Namun, fakta menunjukkan yang lulus hanya 13,33%. Ini pun terjadi hampir
pada semua polres. Semua bloger yang saya baca selalu bercerita bahwa
dia berulang kali gagal uji teori. Tanda S di coret ketika kita Tanya
orang pasti dijawab dilarang berhenti. Betul. Tanda P di coret artinya
dilarang parkir. Betul. Tapi ketika ketemu soal itu di uji teori pilihan
jawaban adalah bukan itu.
Pilihan ABC memiliki untaian kalimat yang panjang bukan sekedar
dilarang parkir atau dilarang berhenti. Ini membuat pilihan jawaban yang
salah. Pernahkah anda berpikir rambu lalu lintas S di coret dengan
jawaban yang benar adalah ini: Dilarang berhenti sampai dengan jarak 15 m
dari tempat pemasangan rambu menurut arah lalu lintas kecuali yang
dinyatakan lain dengan papan tambahan. Demikian juga untuk soal-soal
lainnya. Ini pula yang saya pelajari selama hampir seminggu dan seharian
penuh menjelang hari ujian.
Ujian praktek dan teori adalah prosedur 7 dan 8. Prosedur ke 9 adalah
membayar ke loket yang ditunjuk atau loket PNBP atau nama lain sesuai
polres masing-masing. Ini hanya bayar Rp. 100.000. Saya pikir ada bayar
lainnya seperti PMI, Asuransi, dll. Ternyata Cuma itu saja sesuai
tertera pada papan informasi. Setelah bayar pun saya tidak periksa
kwitansinya. Bodoh amatlah yang penting bayar sesuai papan informasi.
Setelah itu saya ke prosedur 10 yaitu loket data entri.
Beberapa menit kemudian di panggil ke loket foto muka dan sidik jari. Duduk tegak dan TIDAK LUPA TERSENYUM UNTUK MEMBEDAKAN DENGAN orang lain yang pasang muka serius.
Setelah tunggu 5 menit, terus dipanggillah nama saya untuk menerima SIM
C dengan jalan lurus itu. Saya bersyukur ini terjadi. Bagi beberapa
orang barangkali ini masalah remeh temeh. Namun, ini adalah sebuah
proses membunuh kesombongan saya padahal baru punya motor Cuma satu.
Saya bahkan berpikir Valentino Rossi pun belum tentu lulus untuk ujian
praktek ini. Kecuali kalau dia udah pernah main ke polda terus nyoba
trek uji sim. Dia pernah main ke Indonesia untuk jadi bintang iklan
kan???
Dari keadaan dan pengalaman itu, saya ingin menyerukan kepada semua
pesepeda motor (dan pengendara roda 4 juga), pengalamanmu bermotor
bertahun-tahun tidak jamin untuk sekali lulus ujian teori dan ujian
praktek. Jutaan orang Indonesia sudah menjadi korban dan saya harap anda
jangan mengulanginya.
Tips Dan Trik Untuk Membuat SIM Kurang Dalam Sehari
Berikut ini beberap tips dan trik untuk membuat SIM dalam satu hari tanpa menyogok
1. Cobalah untuk berlatih pada trek ujian praktek. Mintalah
ijin pada polisi polres menggunakannya untuk latihan. 1-2 jam cukup
bagi ada yang biasa ngebut dijalanan. Anda yakin ini akan lulus tanpa
latihan? Okay tak apa-apa ini bisa dilewati. Tapi yakinkah di proses uji
teori?
2. Bacalah soal jawab uji SIM yang tersedia di internet. Rasanya
polisi masih akan lama membiarkan dokumen ini diinternet. Banyak
diinternet aja, sebagian besar gagal. Jadi manfaatkanlah. Di bawah
artikel ini link downloadnya. Di web atau blog lain juga banyak. Soalnya
sama persis 99% tanpa perubahan apa pun kecuali urutannya.
3. Saya jamin anda lulus bila proses ini dilalui dengan baik.
Tidak perlu berpikir bahwa polisi bertindak mencurangi agar kita gagal
kecuali kalo sistemnya memang di tangan polisi. Soal komputerisasi tidak
bisa diintervensi oleh petugas polisi yang berjaga saat itu. Saya yakin
itu. Ujian praktek juga tidak bisa diintervensi polisi agar gagal
karena ukurannya jelas yaitu tidak boleh injak aspal dan jatuh patok.
4. TIPS INI TIDAK AKAN BERLAKU bila rezim korupsi kembali berkuasa di polres setempat.
5. Pembuatan SIM Di Polres Kabupaten Bogor semua jelas dan terukur. Semoga
sama di polres lainnya. Semoga ini akan berlangsung sampai waktu yang
sangat lama atau minimal masih akan terjadi ketika saya butuh
memperpanjang SIM lagi.
Sumber http://rahasiacaramembuatsim.wordpress.com