Rabu, 19 Desember 2012

Langkah membuat SIM

Tulisan ini  ditujukan untuk membagi pengalaman membuat SIM C dengan jalan yang benar. Tulisan ini akan bermanfaat bagi para pemakai sepeda motor yang belum punya SIM C atau ingin membuat baru karena berbagai alasan. Manfaat yang bisa diperoleh adalah bagaimana menghembat biaya dan waktu, bagaimana bisa memastikan diri lulus ujian SIM C, bagaimana menjawab soal ujian SIM dengan benar. Tulisan ini juga bermaksud agar anda mampu membuat sampai selesai pada hari anda datang.
Syarat-Syarat Administrasi
Berikut beberapa syarat yang penting ada siapkan, yaitu
(1). Foto kopi KTP 1 lembar. Penting juga anda biasakan menyiapkan foto kopian KTP di dompet anda.
(2) Uang. Biaya total pada April 2012 adalah Rp. 120.000 terdiri dari Rp.20.000 untuk keterangan kesehatan dan Rp. 100.000 untuk biaya pembuatan SIM.
Biaya lainnya tidak ada tapi hendaknya ada membawa uang lebih misalnya Rp. 150.000 untuk berbagai hal yang sifatnya pribadi dan lainnya. Segitu sudah cukup berdasarkan pengalaman tanggal tersebut di atas. Bagi anda yang berada di daerah lain bisa jadi lebih kecil atau lebih besar. Silahkan Tanya dulu atau main dulu ke polres setempat.

Syarat Pribadi
Berikut ini beberapa syarat pribadi yang patut anda siapkan bahkan HARUS:
1.    Tentu saja trampil mengendarai sepeda motor. Minimal 1 tahun karena menurut pengalaman polisi penguji yang kurang dari 1 tahun sering gagal total bahkan nyelonong nabrak pagar waktu ujian.
2.    Sehat dan waras. Sehat badannya. Waras pikirannya. Tenang hatinya.
3.    Jangan sok hebat. Ini penting karena biarpun anda (dan saya) sudah bertahun-tahun naik motor, bahkan seluruh Pulau Jawa sudah dijelajahi, belum tentu anda lulus tes pada hari itu juga.
4.    Tahu diri. Belum tentu anda lulus pada hari itu bila anda datang bikin SIM tanpa persiapan dan kesiapan. Tahu diri penting karena akan ada ujian praktek dan ujian teori bahkan beberapa daerah menerapkan uji jalan raya dengan motor masing-masing.
Prosedur Yang Harus Diikuti Berdasarkan Kasus Polres Kabupaten Bogor pada April 2012
Sama seperti instansi lainnya, ketika membuat dokumen pasti ada prosedur atau urutan langkahnya. Berikut ini beberapa hal yang perlu diikuti:
1.    Anda memasuki pintu gerbang polres, siapkan KTP aslinya untuk diserahkan ke polisi jaga. Anda cukup membawa foto kopinya saja. Di polres lain mungkin tidak menerapkan aturan ini. Silahkan ikuti aturan masuk lingkungan polres setempat.
2.    Parkirkan motor atau mobil anda di tempat yang disediakan.
3.    Dari parkiran dengan membawa foto kopi KTP, langsung menuju ke pos pemeriksaan kesehatan. Anda diperiksa mata, tensi darah, berat badan dan Tinggi badan. Bayar Rp. 20.000.  Dari sini anda akan dapat surat kesehatan.
4.    Bawa surat itu dan foto kopi KTP ke loket pendaftaran SIM baru. Ikuti Antrian, kalo ada tumpukan map Satlantas yang tersedia, ambil satu karena memang disediakan buat pembuat SIM.
5.    Masukkan semua berkasnya ke dalamnya dan ikuti petunjuk di loket itu.
6.    Serahkan ke petugas yang ada. Dia akan bilang, “tunggu di tempat ujian praktek”. Di Kabupaten Bogor, polres mendulukan ujian praktek, setelah lulus kemudian ikut ujian teori, setelah lulus menuju proses berikutnya.
NOTE: urutan diatas bisa jadi berbeda setiap polres, silahkan Tanya atau cari petunjuk tentang prosedur pembuatan SIM baru di polres setempat.
Proses Ujian SIM C
Pada hampir semua daerah pembuat SIM baru harus mengikuti 3 ujian yaitu ujian praktek, ujian jalan raya dan ujian tulis. Namun di Polres Kabupaten Bogor hanya ada 2 jenis ujian yaitu Ujian Praktek di halaman polres saja dan ujian tulis atau teori. Mungkin ujian jalan raya dihilangkan karena kondisi lalu lintas di Jabotabek tidak memungkinkan karena kepadatannya termasuk kesibukan para polisi.
Dari cerita pengalaman para blogger, ujian jalan raya adalah sangat mudah karena dilaksanakan secara rombongan dengan motor masing-masing. Peserta mengikuti polisi yang membawa mereka berkeliling kota. Peserta wajib mengikuti perilaku polisi ketika berkendara. Jadi bagian ini semua (pasti) lulus. Berikut ini detail pengalaman ujian tersebut.
1.    Ujian Praktek.
Saya adalah pengguna motor matik lebih dari 3 tahun. Sepertiga Pulau Jawa sudah saya jelajahi. Mudik ke Jawa Tengah waktu lebaran dan waktu Tahun baruan sudah saya lakukan dengan motor secara sendiri atau berdua. Saya selamat, sehat dan senang. Berarti saya sudah terampil kan??? Tetangga satu RT pun mengakui saya sudah hebat naik motornya karena mereka tahu saya mudik dengan motor. Hanya pembalap Rossi saja yang tidak mengakui karena dia tidak kenal saya.
Waktu itu saya tidak punya SIM karena saya pinjam SIM C adik saya yang mukanya mirip 80% dengan saya. Hampir 2 tahun SIM adik saya itu, saya pegang berhubung dia tidak punya motor lagi. Polisi pun tidak mendeteksi kalau saya pakai SIM orang lain karena pernah kena razia juga. Jadi aman-aman saja. Namun, sebulan terakhir ini, dia meminta kembali SIMnya. Wong punya dia, masa saya tidak berikan. Nah…sejak itulah saya tidak punya SIM C. Eh…SIM A udah ada lhooo.
Karena tidak ada SIM C sementara jalan-jalan utama dekat rumah saya merupakan jalan dimana setiap hari polisi melakukan razia, maka perlu membuat SIM C. Saya menyempatkan waktu sehari untuk membuatnya di Polres Kabupaten Bogor sesuai KTP saya bukan di Polres Kota Bogor .  Saya ikuti prosedur 1-6 diatas tanpa membawa bekal tahu diri seperti pada syarat pribadi.
Di polres Kabupaten Bogor motor di sediakan yaitu thunder untuk laki-laki dengan 3x ulang tes untuk masing-masing lintasan. Untuk perempuan disediakan bebek manual dan bebek matik. Tidak boleh dengan motor sendiri. Untuk laki-laki boleh menggunakan bebek ini tapi hanya sekali tes atau sekali jalan. Jadi kalo gagal pada satu lintasan, maka gagal semuanya dan harus ulang seminggu kemudian.
Mulailah ujian prakteknya. Saya sudah tahu sebelumnya bahwa ujian prakteknya adalah lintasan lurus, lintasan zig-zag dan lintasan 8. Aturannya adalah tidak boleh merobohkan patok-patok dan kaki tidak boleh menyentuh aspal. Pertama kali lihat pada waktu bikin SIM A, saya pikir itu mudah. Masa gitu aja gak bisa. Memang saya tahu, waktu itu banyak sekali yang gagal. Tapi saya yakin bisa. Dan ketika saya ikut ujian itu, hmmmm….masuk lintasan zig zag, saya gagal.  Saya pun dapat selembar kertas dengan tulisan merah sangat besar “TIDAK LULUS”. Inilah NASIB SAYA WAKTU ITU. Rasanya…walau Cuma ujian SIM, tapi rasanya malu pada diri sendiri.  Sangat tidak enak dengan kegagalan kecil ini.
Okay…jadilah saya ikut ujian ulang seminggu berikutnya. Masih dengan hati optimis datanglah pagi-pagi dan saya langsung menuju loket pembuatan SIM baru dengan menyerahkan tanda tidak lulus. Ternyata…eh ternyata trek zig-zag dihapuskan menjadi trek lurus dengan aturan rem mendadak pada titik tertentu dilanjutkan dengan belok ke kanan atau kiri. Kemudian ditambahkan lintasan U. Waktu itu ujian dibuka dengan diawali ceramah oleh Kepala Unit Rekayasa Lalu Lintas untuk menandai penggunaan pertama kalinya. Ceramah selesai. Dimulailah ujiannya. Alamaaak…saya jadi yang pertama untuk mencoba lintasan U, lintasan lurus rem medadak, dan lintasan 8. Saya gunakan bebek matik dan bruum. Saya gagal lagi di Lintasan U. Karena saya laki-laki dengan bebek matik, maka saya hanya boleh mencoba satu kali saja.
Gagal lagi untuk yang kedua. Rasanya sangat malu pada diri sendiri dan banyak orang karena menjadi orang pertama yang gagal. Perlu diketahui bahwa peserta yang ikut dalam ujian itu, tidak sampai 25% yang lulus pada hari pertama dia datang. Bisa pada ujian ke 2, 3, 4, 5 dan seterusnya. Ada yang satu bulan, dua bulan bahkan lebih masih di ujian praktek itu.
Kenapa demikian? Karena mereka tidak tahu diri seperti saya. Namun, ada juga yang lulus pada hari itu juga tapi tidak lulus pada ujian teori bahkan ada yang peserta ujian bersama saya sampai 9x ujian teori tidak lulus. Mana ada orang lulus ujian kalau tidak belajar sebelumnya? Itulah dasar hukum yang berlaku pada ujian SIM ini. Hampir semua orang tidak belajar dulu untuk ikut ujian ini. Mereka pikir –termasuk saya – masa bertahun-tahun pake motor tidak lulus ujian? Ya memang demikian. Ada tukang ojek motor yang puluhan tahun pun tidak lulus. Kenapa? Karena kita tidak pernah berjalan membentuk angka 8 kan??? Kita pernah memutar balik tapi dengan menyentuh kaki ke aspal kaan? Kita pernah rem mendadak terus banting kanan atau ke kiri kaan? Tapi semua itu dengan bantuan kaki kita. Pada hari itu kita adalah pengendara motor yang “tidak punya kaki”. Yang menggunakan kakinya ketika ujian di situ, maka pulanglah ketika ujian belum selesai.
Sampai kapan ini akan terjadi pada diri saya. Menyebalkan bukan? Saya tidak menyalahkan polisi, saya juga tidak ingin menyuap polisi karena 98% polisi disitu tidak berani berbuat seperti itu sekarang. Saya tidak menemukan yang 2 persennya dan kalau pun ada saya tidak mau melakukannya. Kenapa? Karena inilah saatnya saya membuktikan pada diri sendiri bahwa saya mampu. Saya harus jadi manusia yang menghormati proses walau setiap proses adalah kerja keras dan setiap kerja keras akan dihargai oleh Tuhan YME. Menghargai dan menikmati proses inilah yang sekarang tidak dihargai oleh orang-orang Indonesia. Mereka semua ingin cepat dan instant dengan menyuap dan korupsi. Saya juga ingin membunuh kesombongan saya melalui proses ini.
Selain itu di polres ini sekarang tidak lagi berlaku proses suap menyuap. Menurut polisi yang menguji: “ini adalah jamannya begini. Dulu dengan 300-400 ribu langsung jadi. Sekarang tidak lagi. Entah pada jaman nanti. Bisa saja berubah” Ya…jaman lurus sedang berlaku di Polres Kabupaten Bogor. Jaman bengkok sudah berlalu. Jujurlah saya bahwa saya menikmati jaman bengkok itu ketika membuat SIM A. Waktu itu saya habis Rp. 550.000 untuk dua SIM. Saya juga sangsi apakah saya akan lulus dalam sehari untuk bikin SIM A bila di uji pada saat ini.
Ketidaklulusan yang kedua dan mendengar pengakuan teman ujian yang 9x gagal ujian teori membuat saya harus berbuat sesuatu. Saya HARUS TAHU DIRI BAHWA SAYA SOMBONG. Makanya inilah saatnya membunuhnya dengan berlatih. Pada hari Sabtu dan Minggu ketika pelayanan tutup saya sempatkan untuk berlatih ujian praktek dengan motor sendiri di lokasi ujian. Polres dekat dengan rumah saya. Pada dua hari itu saya latihan 2 jam lamanya. Saya jadi tahu dimana titik belok dan kendali gas.
Anda yang sedang membaca ini bisa jadi dalam hatimu berkata” Memang situ yang goblok. Gitu aja gak bisa”. Bisa jadi anda benar atau mungkin sekali anda seperti saya kecuali kalo anda adalah penguji atau yang sudah pernah menikmati trek seperti itu. Tapi bagi orang yang tidak pernah mencobanya maka menjatuhkan kakinya adalah tindakan reflek yang sulit dikendalikan. Untuk mengatasinya hanya dengan berlatih atau mencobanya beberapa kali.  Bayangkan saja dari ratusan orang yang ikut ujian tidak sampai 30 orang yang lulus. Tidak sampai 25% dari yang ikut ujian. Artinya tidak sampai 25% yang lulus ujian sekali ia datang. Bisa jadi setelah mengulangnya.
Setelah latihan dua kali, saya pun ikut ujian di minggu ketiga. Setelah ceramah selesai, polisi bertanya, “siapa mau memberi contoh tapi contoh berhasil bukan gagal”. Dengan tahu diri sambil mengingat teknik yang saya dapati maka saya pun maju dengan bebek matik. Jadilah saya orang yang memberi contoh tersebut.
Rasanya? Kaki gemetaran dan deg-degan. Tapi saya ingat kata-kata spongebob: teknik,teknik,teknik. Ya itu saya pegang teguh. Dengan menggunakan teknik yang saya tahu maka luluslah saya dengan sekali jalan saja. Teknik yang saya pakai adalah jangan hiraukan gambar garis lintasan yang digambar di aspal. Asal kaki tidak sentuh aspal dan tidak jatuhkan patok maka lulus. Ambil titik belok agak keluar untuk roda depan agar lurus masuk pada lintasan dua patok. Dengan cara ini saya pun lulus. Tepukan tangan teman-teman ujian pun membahana. Tidak sia-sia saya berlatih. Namun, contoh berhasil saya tidak berhasil ditiru oleh peserta ujian lainnya. Kembali banyak yang gagal dan harus mengulang. Kembali kepada hukum dasar yaitu TIDAK ADA YANG LULUS UJIAN TANPA BELAJAR KECUALI KAMU SUDAH KUASAI SEBELUMNYA. Tanda lulus pun saya terima dan diserahkan ke loket ujian teori.
2.    Ujian Teori
Saya serahkan map beserta file didalamnya. Saya tidak periksa apa isinya. Tidak pentinglah. Saya serahkan kepada pulisi yang jaga di loket uji teori dan menunggu di panggil. Saya duduk di ruang tunggu ujian teori. Cukup penuh ruang tunggu. Banyak amat yang menunggu ya? Tanya saya dalam hati. Saya baru tahu kalo yang menunggu itu adalah peserta uji ulang untuk teori. Seorang mahasiswi cantik yang dulu pernah bareng saya ujian praktek juga ikut uji ulang. Dia lulus uji praktek pada waktu saya gagal untuk yang kedua. Kini dia bersama saya karena gagal uji teori pada minggu lalu.
Okay terdengarlah panggilan untuk saya dan lainnya sesuai lajur tempat duduk. Masuklah saya di ruang uji teori. Ruang ini hanya muat 30 orang saja. Ada layar besar untuk lembar soal. Di ruangan itu uji teori dengan computer sehingga hasil langsung diketahu detik itu juga. Semua ada 30 soal. Katanya mesti jawab 18 soal untuk lulus. Saya tidak tahu pastinya soal ini karena beberapa blogger berpendapat lain.
Soal uji teori adalah tentang SIM, rambu-rambu lalu lintas, tanda isyarat polisi, marka jalan, dan lainya. Cara menjawab adalah dengan menekan tombol A,B,C pada masing-masing jawab pilihan. Tombol reset untuk merubah jawaban. Jangan lupa untuk mengecek tombol ini sambil melihat ke layar petunjuk di depan. Ikuti petunjuk yang disampaikan polwan atau petugas. Bacalah petunjuk pada layar soal dengan benar agar tidak salah jawab soal. Kenapa begitu? Karena teman sebelah soalnya beda dengan kita. Saya jawab soal A, sebelah saya jawab soal B.  Metode uji teori setiap polres bisa jadi berbeda.  Tapi saya yakin di kota besar sudah komputerisasi.
Waktu hanya 30 menit dengan masing-masing soal hanya 60 detik untuk menjawab. Setelah 60 detik akan berganti soal berikutnya. Saya sangat menikmati ujian teori ini. Saya yakin lulus apalagi ketika selesai soal selalui di tampilkan kunci jawabannya. Saya optimis lulus bahkan saya bisa memperkiran berapa soal yang benar.
30 menit berlalu, daaaaaan…hanya 4 orang saja yang lulus. Nama saya ada diurutan no 2 dengan nilai 67. Saya jadi inget ketika saya jadi juara 2 LPIR Depdikbud tingkat Nasional tahun 1992. Jadi seperti mengulang kenangan terindah yang terulang. Saya pun berteriak kegirangan. Saya tak percaya dengan hasil itu dan bertanya pada polwan, apa betul no 9A lulus? Ya betul. Begitu katanya. Kemudian dia berkata “yang lulus keluar ruangan untuk intruksi selanjutnya dan yang tidak lulus menunggu di ruangan untuk mendapat tanda tidak lulus untuk mengulang minggu depan”.
Bayangkan dari 30 orang dan sebagian besar peserta uji ulang, hanya 4 orang atau 13,33% yang lulus. Kenapa itu terjadi dan kenapa saya lulus?  Kembali kepada hukum dasar yaitu TIDAK ADA YANG LULUS UJIAN TANPA BELAJAR KECUALI KAMU SUDAH KUASAI SEBELUMNYA.
Seperti cerita uji praktek di atas bahwa ada peserta tidak lulus pada ujian teori bahkan ada yang peserta ujian praktek bersama saya sampai 9x ujian teori tidak lulus.  Inilah yang menjadi pelajaran bagi saya untuk tidak mengulangi kesalahan teman uji praktek yang tidak saya kenal itu. Bersamaan dengan kegagalan uji praktek yang kedua saya pun siapkan uji teori dengan membaca soal ujian sim.
Di internet ada banyak  soal jawab ujian SIM yang dikeluarkan polisi. Selama 3-4 hari saya betul-betul pelajari bahkan saya hapalkan untuk tanda isyarat polisi, di persimpangan, diperempatan dan sebagainya. Di  soal jawab itu terdapat 500 soal dan jawabannya. Dengan membaca soal jawab sebanyak itu sudah cukup untuk lulus. Tidak peduli berapa skor angkanya. Ini masalah buat anda? Bagi saya tidak karena saya pikir ini sekali seumur hidup. Mudah-mudahan demikian. Untuk menguji kesiapan uji teori saya menggunakan link ini: http://www.indonesia-policewatch.com/adil/sim.php?action=simc
Dengan link tersebut saya mampu menjawab 21 soal dari 30. Saya jadi optimis untuk lulus dan benar saja itu terjadi. Teman mahasiswi yang gagal itu sebenarnya sudah tahu tentang soal-soal itu. Namun, itu menjadi persoalan buat dia karena dia bilang,”banyak banget. Tidak tahu mana yang buat SIM C”. Aku balas,”betul memang banyak. Tapi kita bisa kira-kira mana yang buat motor dan buat mobil.
Bagi sebagian besar orang menganggap bahwa ujian teori ini gampang. Namun, fakta menunjukkan yang lulus hanya 13,33%. Ini pun terjadi hampir pada semua polres. Semua bloger yang saya baca selalu bercerita bahwa dia berulang kali gagal uji teori. Tanda S di coret ketika kita Tanya orang pasti dijawab dilarang berhenti. Betul. Tanda P di coret artinya dilarang parkir. Betul. Tapi ketika ketemu soal itu di uji teori pilihan jawaban adalah bukan itu.
Pilihan ABC memiliki untaian kalimat yang panjang bukan sekedar dilarang parkir atau dilarang berhenti. Ini membuat pilihan jawaban yang salah. Pernahkah anda berpikir rambu lalu lintas S di coret dengan jawaban yang benar adalah ini: Dilarang berhenti sampai dengan jarak 15 m dari tempat pemasangan rambu menurut arah lalu lintas kecuali yang dinyatakan lain dengan papan tambahan. Demikian juga untuk soal-soal lainnya. Ini pula yang saya pelajari selama hampir seminggu dan seharian penuh menjelang hari ujian.
Ujian praktek dan teori adalah prosedur 7 dan 8. Prosedur ke 9 adalah membayar ke loket yang ditunjuk atau loket PNBP atau nama lain sesuai polres masing-masing. Ini hanya bayar Rp. 100.000. Saya pikir ada bayar lainnya seperti PMI, Asuransi, dll. Ternyata Cuma itu saja sesuai tertera pada papan informasi. Setelah bayar pun saya tidak periksa kwitansinya. Bodoh amatlah yang penting bayar sesuai papan informasi. Setelah itu saya ke prosedur 10 yaitu loket data entri.
Beberapa menit kemudian di panggil ke loket foto muka dan sidik jari. Duduk tegak dan TIDAK LUPA TERSENYUM UNTUK MEMBEDAKAN DENGAN orang lain yang pasang muka serius. Setelah tunggu 5 menit, terus dipanggillah nama saya untuk menerima SIM C dengan jalan lurus itu. Saya bersyukur ini terjadi. Bagi beberapa orang barangkali ini masalah remeh temeh. Namun, ini adalah sebuah proses membunuh kesombongan saya padahal baru punya motor Cuma satu. Saya bahkan berpikir Valentino Rossi pun belum tentu lulus untuk ujian praktek ini. Kecuali kalau dia udah pernah main ke polda terus nyoba trek uji sim. Dia pernah main ke Indonesia untuk jadi bintang iklan kan???
Dari keadaan dan pengalaman itu, saya ingin menyerukan kepada semua pesepeda motor (dan pengendara roda 4 juga), pengalamanmu bermotor bertahun-tahun tidak jamin untuk sekali lulus ujian teori dan ujian praktek. Jutaan orang Indonesia sudah menjadi korban dan saya harap anda jangan mengulanginya.
Tips Dan Trik Untuk Membuat SIM Kurang Dalam Sehari
Berikut ini beberap tips dan trik untuk membuat SIM dalam satu hari tanpa menyogok
1.    Cobalah untuk berlatih pada trek ujian praktek. Mintalah ijin pada polisi polres menggunakannya untuk latihan. 1-2 jam cukup bagi ada yang biasa ngebut dijalanan. Anda yakin ini akan lulus tanpa latihan? Okay tak apa-apa ini bisa dilewati. Tapi yakinkah di proses uji teori?
2.    Bacalah soal jawab uji SIM yang tersedia di internet. Rasanya polisi masih akan lama membiarkan dokumen ini diinternet. Banyak diinternet aja, sebagian besar gagal. Jadi manfaatkanlah. Di bawah artikel ini link downloadnya. Di web atau blog lain juga banyak. Soalnya sama persis 99% tanpa perubahan apa pun kecuali urutannya.
3.    Saya jamin anda lulus bila proses ini dilalui dengan baik. Tidak perlu berpikir bahwa polisi bertindak mencurangi agar kita gagal kecuali kalo sistemnya memang di tangan polisi. Soal komputerisasi tidak bisa diintervensi oleh petugas polisi yang berjaga saat itu. Saya yakin itu. Ujian praktek juga tidak bisa diintervensi polisi agar gagal karena ukurannya jelas yaitu tidak boleh injak aspal dan jatuh patok.
4.    TIPS INI TIDAK AKAN BERLAKU bila rezim korupsi kembali berkuasa di polres setempat.
5.    Pembuatan SIM Di Polres Kabupaten Bogor semua jelas dan terukur. Semoga sama di polres lainnya. Semoga ini akan berlangsung sampai waktu yang sangat lama atau minimal masih akan terjadi ketika saya butuh memperpanjang SIM lagi.

Sumber http://rahasiacaramembuatsim.wordpress.com

Tips Trik

Kesehatan

Fadhillah

Download Software

Dunia Muslim

BLOG

Naruto

cond='data:blog.pageType == "item"'>