Ali as Setelah Kepergian Nabi SAW
Tahun 10 hijriyah, Nabi SAW bersama para
sahabatnya melakukan ibadah haji. Musim haji tahun itu, hanya dihadiri
oleh mereka yang telah memeluk agam Islam. Sejarah mencatat, bahwa lebih
dari 100 ribu muslim ikut menyertai rasulullah SAW dalam ibadah haji
yang disebut dengan hajjatul wada’ ini. Hajjatul Wada berarti haji
perpisahan, karena setelah tahun itu umat Islam ditinggalkan oleh
pemimpin mereka, Rasulullah SAW yang wafat hanya selang beberapa bulan
sepulangnya dari haji ini.
Seperti yang telah kami singgung dalam
searah kehidupan rasul SAW, di tengah perjalanan pulang ke Madinah, Nabi
mendapatkan wahyu untuk menyampaikan pesan penting Tuhan. Untuk
melaksanakan perintah itu, beliau menyuruh para sahabatnya untuk
berhenti di tempat yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Di sanalah
beliau menyampaikan hadisnya yang terkenal, “Man Kuntu Maulahu fahadza
Aliyyun maulah.” Barang siapa yang menjadikanku sebagai pemimpin maka
Ali adalah pemimpinnya juga. Hadis ini difahami sebagai pengumuman dari
Nabi bahwa sepeninggal beliau Ali-lah yang akan memimpin umat Islam.
Di penghujung bulan Shafar tahun 11 hijriyah,
Nabi SAW menerima panggilan Sang Khalik untuk menghadap-nya. Beliau
wafat meninggalkan umatnya setelah menyelesaikan semua tugasnya dengan
baik. Umat Islam bagai anak-anak yatim yang kehilangan orang tua mereka.
Untuk itulah sejumlah orang berkumpul di sebuah balairung yang disebut
dengan nama Saqifah bani Saidah. Pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah
orang Anshar dan beberapa orang muhajirin. Meski sempat terjadi
keributan, pertemuan itu menghasilkan keputusan mengangkat Abu bakar
sebagai khalifah pengganti Rasulullah untuk memerintah atas umat.
Pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah di
saat jenazah suci Rasulullah SAW belum dimakamkan, cukup mengejutkan
bagi para sahabat yang lain. Sebagian dari mereka masih meyakini bahwa
Rasul sudah menjelaskan siapakah yang bakal menjadi penerus beliau.
Namun segala penentangan terhadap keputusan itu tidak membuahkan hasil
apapun. Beberapa bulan setelah wafatnya Rasul, Ali dan para pengikutnya
mengulurkan tangan baiat kepada Abu Bakar.
Sejarah mencatat bahwa sepeninggal
Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai jawara tangguh
dan pewaris ilmu Rasulullah SAW, hidup menyendiri. Beliau lebih
menyibukkan diri dengan ibadah, menulis Al-Quran, bekerja dan
mengajarkan ilmu kepada orang-orang tertentu, semisal Abdullah bin Abbas.
Hubungan Ali dengan khalifah Abu Bakar tidak banyak dicatat oleh sejarah.
Sepeninggal khalifah Abu Bakar, Umar yang menjadi khalifah kedua banyak
memanfaatkan ilmu dan nasehat Ali. Ketika akan menyerang Persia, sesuai
dengan saran Ali, Umar tidak menyertai pasukannya. Dalam banyak kasus,
Umar juga membatalkan keputusannya ketika ada penentangan dari Ali.
Kata-kata Umar yang terkenal, “Jika tidak ada Ali, Umar pasti binasa,”
atau ungkapan, “Semoga Allah tidak menguji dengan satu maslah tanpa
kehadiran Abul Hasan” diabadikan oleh para sejarawan.
Menjelang kematiannya, khalifah Umar
menunjuk enam orang sahabat, yatiu Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan,
Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqash dan
Abdurrahman bin Auf sebagai anggota syura. Tugas syura ini adalah
memilih salah seorang diantara mereka sebagai khalifah. Dengan ketentuan
yang telah ditetapkan, Abdurrahman bin Auf mengulurkan tangannya untuk
membaiat usman. Keputusan itulah yang akhirnya ditetapkan dan Usman bin
Affan menjadi khalifah ketiga.
Di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Ali
tidak banyak memegang peranan, sebab khalifah ketiga ini lebih
mengutamakan sanak familinya dari pada orang lain termasuk dalam masalah
pemerintahan. Ketidakpuasan umum terhadap kinerja khalifah dan para
pejabat pemerintahan saat itu, telah memunculkan kebangkitan massa.
Meski termasuk tokoh yang paling vokal terhadap penyelewengan yang
dilakukan oleh para pejabat pemerintahan saat itu, Imam Ali as tetap
berusaha mencegah terjadinya aksi pembunuhan terhadap khalifah. Semua
upaya dilakukannya termasuk memerintah putra-putranya untuk mengirimkan
air dan makanan ke rumah khalifah yang dikepung massa. Namun, takdir
berkehendak lain dan khalifah Usman terbunuh di tengah kerusuhan tersebut.
Ali Dibaiat Sebagai Khalifah
Masyarakat umum yang merasakan kekosongan
kepemimpinan menyerbu rumah Ali dan mengajukan baiat mereka. Putra Abu
Thalib menolak baiat tersebut dan meminta umat untuk membaiat orang
selain dirinya. Ketika desakan massa semakin kuat, Ali menerima baiat
mereka. Praktis dengan baiat yang dilakukan umat secara aklamasi
terhadap dirinya, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah kaum muslimin.
Kebijakan pertama yang dilakukan Ali adalah
mencopot para pejabat yang tidak layak lalu mengganti mereka dengan
orang-orang yang cakap dan adil. Imam Ali yang dikenal dengan
keadilannya juga mencabut undang-undang yang diskriminatif. Beliau
memutuskan untuk membatalkan segala konsesi yang sebelumnya diberikan
kepada orang-orang Quresy dan menyamaratakan hak umat atas kekayaan
baitul mal.
Sikap inilah yang mendapat penentangan
sejumlah orang yang selama bertahun-tahun menikmati keistimewaan yang
dibuat oleh khalifah sebelumnya. Ketidakpuasan itu kian meningkat sampai
akhirnya mendorong sekelompok orang untuk menyusun kekuatan melawan
beliau. Thalhah, Zubair dan Aisyah berhasil mngumpulkan pasukan yang
cukup besar di Basrah untuk bertempur melawan khalifah Ali bin Abi
Thalib.
Mendengar adanya pemberontakan itu, Imam Ali
mengerahkan pasukannya. Kedua pasukan saling berhadapan. Ali terus
berusaha membujuk Thalhah dan Zubair agar mengurungkan rencana berperang.
Beliau mengingatkan keduanya akan hari-hari manis saat bersama
Rasulullah SAW dan berperang melawan pasukan kafir.
Meski ada riwayat yang menyebutkan bahwa
himbauan Imam Ali itu tidak berhasil menyadarkan kedua sahabat Nabi itu,
tetapi sebagian sejarawan menceritakan bahwa Thalhah dan Zubair saat
mendengar teguran Ali, bergegas meninggalkan medan perang.
Perang tak terhindarkan. Ribuan nyawa
melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap
keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali as. Pasukan Ali berhasil memukul
mundur pasukan yang dikomandoi Aisyah, yang saat itu menunggang unta.
Perang Jamal atau Perang Unta berakhir setelah unta yang dinaiki oleh
Aisyah tertusuk tombak dan jatuh terkapar.
Sebagai khalifah yang bijak, Ali memaafkan
mereka yang sebelum ini menghunus pedang untuk memeranginya. Aisyah juga
dikirim kembali ke Madinah dengan dikawal oleh sepasukan wanita
bersenjata lengkap. Fitnah pertama yang terjadi pada masa kekhalifahan
Imam Ali as berhasil dipadamkan. Namun masih ada kelompok-kelompok lain
yang menghunus pedang melawan Ali yang oleh Rasulullah SAW disebut
sebagai poros kebenaran.
Sumber : sejarah manusia suci